Tantangan Memandang, Mendengar dan Bernalar

Resensi › Lisabona Rahman

Penilaian penulis:  
 (7/10)

Pemandangan dan bunyi-bunyian membuat kita berpikir dan merasa. Rasanya ini pernyataan yang logis, kenyataan sehari-hari yang sederhana. Sekarang mari kita balik: tanpa pemandangan dan bunyi bagaimana kita berpikir dan merasa? Akankah pikiran dan perasaan kita terganggu? Apakah gangguan ini akan membuat kita tersesat dan kehilangan pijakan realitas kita?

Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (Tidak Bicara Cinta) mengikuti tiga remaja di sebuah sekolah berasrama, yang di Indonesia kita kenal sebagai Sekolah Luar Biasa. Diana (Karina Salim), gadis dari keluarga berada sedang menunggu kedatangan menstruasi, tanda beranjak dewasa. Fitri (Ayushita Nugraha), berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, adalah sahabat Diana yang sudah aktif secara seksual. Edo (Nicholas Saputra), anak pemilik warung di sekolah itu, bebas keluar masuk ke ruang manapun dan mengamati murid-murid.

Diana mempunyai kekhususan low vision (rentang jarak penglihatannya sangat dekat), sementara Fitri tidak melihat sama sekali. Edo, di sisi lain, tidak mendengar.

Waktu Andhika (Anggun Priambodo), seorang murid baru lelaki datang, Diana tertarik. Andhika tidak bisa melihat. Dari beberapa adegan kita menduga bahwa Andhika sudah punya pacar di luar asrama. Sementara, Edo tertarik pada Fitri dan berusaha menggantikan pacar Fitri yang jauh lebih tua dan punya mobil, lagi bisa melihat-mendengar.

Film, seperti alat komunikasi lainnya, adalah medium penginderaan pandang-dengar. Artinya film sangat tergantung pada sensasi yang kita tangkap lewat indera. Lewat tokoh-tokoh yang punya keterbatasan memandang ataupun mendengar, Mouly Surya mempertanyakan identitas dasar ‘film’. Bahasa dasar pandang dan dengar diuji oleh Mouly untuk menerjemahkan dunia paralel antara manusia pemandang/bukan pemandang, pendengar/bukan pendengar.

Jarang sekali ada film Indonesia yang mengutak-atik persoalan dasar ‘film’ dan mempertanyakan kesatuan pandangan-pendengaran dalam film. Mungkin kita tidak selalu menyadari bahwa sensasi yang ditimbulkan oleh film pada diri kita melulu ditentukan oleh apa yang bisa kita pandang dan kita dengar. Terutama pada film-film populer, elemen-elemen pandang-dengar diramu dengan formula seturut pakem alias template sampai kita ‘melupakan’ sensasi mendasar ini dan seolah-olah berkonsentrasi pada ‘nalar’ cerita. Pada Tidak Bicara Cinta elemen pandang-dengar ini bukan saja diceraikan oleh Mouly, tapi lebih jauh lagi, ia jadikan bahan percobaan. Tentu kita sudah biasa melihat gambar dalam film yang dibuka dengan ‘pandangan’ tidak fokus, sampai menjadi fokus kepada tokoh atau benda penting dalam cerita. Proses perubahan dari pandangan tidak fokus menjadi fokus memindahkan kita dari posisi asing menjadi akrab dengan tokoh dan benda dalam cerita. Lewat perubahan pandangan ini, kita para penonton, dihisap masuk menjadi bagian cerita/film. Dalam Tidak Bicara Cinta, kebiasaan inilah yang menjadi bahan percobaan utama Mouly. Ketika kita berada dalam kepala Diana yang memandang Andhika dengan pandangannya yang low vision, kamera harus menciptakan sensasi yang seolah-olah sama sehingga kita pun ‘menjadi’ Diana.

Dalam film Indonesia, kita sering sekali mendapati pembuat film menempuh jalan pintas. Ketimbang menampilkan (to show), elemen-elemen film malah diceritakan (to tell). Akibatnya, sensasi-sensasi baru yang mungkin tercapai ketika pembuat film bereksperimen mengolah tampilan gambar dan suara tidak pernah berkembang. Kita terpaksa puas dengan cara standar yang sudah berulangkali diterapkan sampai jadi membosankan. Kekuatan Tidak Bicara Cinta terletak pada keinginannya untuk menemukan cara-cara baru menampilkan cerita pandang-dengar. Karena sifatnya, film ini menantang penontonnya dengan merangsang indera pandang-dengar, bukan dengan menceritakan apa yang seharusnya dialami oleh indera penonton.

Pengolahan sensasi seperti ini bukan yang pertama kali dalam film Indonesia. Paling tidak, di kalangan para pembuat film Indonesia masa kini Paul Agusta telah melakukannya dengan gerak kamera ekstrim dalam Kado Hari Jadi (2008) dan Joko Anwar juga mencoba menimbulkan sensasi ancaman pengintaian dalam Pintu Terlarang (2009). Sebelumnya, Teguh Karya juga telah membangun kesan yang sama dengan melulu menggunakan close-up dan medium shot untuk membangun kesan kegagalan komunikasi keluarga dan komunitas dalam Pacar Ketinggalan Kereta (1988).

Seimbang dengan eksperimen yang dilakukan dengan pandangan, begitu juga pendengaran. Suara, dan terlebih lagi musik, dalam film ini menjadi pengikat yang sangat penting bagi penonton. Film ini dibuka dengan ansambel aktor menyanyikan lagu Burung Camar (Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdulrachman, 1985). Lagu yang terkenal karena dibawakan oleh Vina Panduwinata ini bisa dibilang aneh karena merupakan perpaduan antara melodi yang riang dengan lirik yang sedih. Pembukaan ini langsung menyiapkan kita menghadapi rangkaian yang taksa. Seterusnya dalam film ini, musik memegang peranan yang sangat penting dalam memandu emosi kita. Pilihan-pilihan para penata musik Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani sangat jitu membangun emosi yang tepat.

Biar bagaimanapun, eksperimen seperti ini juga mengandung resiko. Bermain-main dengan penginderaan (pandang-dengar) berarti juga meningkatkan resiko mengacaukan ruang dan waktu. Seperti Andhika yang masih meraba-raba cari jalan di sekolah/asramanya yang baru, nalar kita biasa dituntun oleh pengalaman inderawi yang sudah akrab. Dalam nonton film, ini berarti apa yang sudah biasa kita lihat dan dengar. Ketika Mouly menempatkan kenyataan-kenyataan paralel buat tokoh-tokohnya dalam tampilan yang sangat mirip, kita pun dibikin bingung. Kita terbiasa memaknai emosi atau kenyataan dalam film lewat warna atau suara. Kenyataan yang berada di luar jalur cerita utama, misalnya kilas-balik atau alam mimpi, seringkali diberi warna atau tingkat ketajaman fokus yang berbeda supaya penonton tidak kehilangan arah dan gampang membedakan. Dalam Tidak Bicara Cinta, panduan itu nyaris tidak ada sehingga pada awalnya kita merasa tersesat di tengah kenyataan-kenyataan yang berlawanan.

Ini eksplorasi yang berani. Penonton yang rajin menyimak dan penasaran akan dengan tekun mengikuti semua petunjuk dan menemukan titik terangnya. Penonton yang malas menyimak dan minta digandeng sampai akhir film boleh jadi akan tersesat di tengah jalan, sibuk mengeluhkan kebingungan.

Tapi, Mouly tampaknya juga kesulitan mengendalikan keinginan eksplorasi tematiknya. Ia memilih ‘cinta’ sebagai perekat para tokohnya. Dengan caranya sendiri, Mouly menempatkan bentuk komunikasi perasaan yang paling komprehensif, yakni ‘cinta’ - suatu topik yang boleh dibilang paling sering dijadikan sumber narasi dramatik - sebagai lokomotif jalan cerita. Dengan tokoh-tokoh yang menjalankan cara komunikasi yang unik, kita sendiri terpengaruh untuk berupaya lebih keras mengolah sensasi pandang-dengar yang ditimbulkan film ini. Film ini menempatkan kita dalam ruang intim Diana, Fitri dan Edo. Hubungan Diana dengan ibunya yang sangat mengendalikannya tetap masuk di dalam ruang intim ini. Tapi, ketika Mouly mulai menempatkan idiom kebangsaan seperti pada adegan upacara bendera, konsistensi keintiman ini terganggu. Pernyataan soal ‘kebangsaan’ ini menjadi kurang relevan dan terasa sebagai upaya penyisipan paksa sebuah gagasan yang menyempal.

Meski punya masalah konsistensi dan disiplin pengucapan, Tidak Bicara Cinta adalah karya yang sangat enak dinikmati. Selain bahasa teknis kamera dan suara yang tergarap sangat baik, para aktor pun tampil meyakinkan. Permainan Nicholas Saputra sebagai Edo di sini sangatlah layak mendapat perhatian khusus.

Meskipun film ini sudah menarik perhatian pemerhati film dunia dan festival, peredarannya di Indonesia adalah tantangan tersendiri. Semoga penonton Indonesia yang punya jiwa petualang berbondong-bondong ikut merasakan dan mengalami eksplorasi Mouly kali ini. Film seperti ini, barangkali hanya dibuat (jangankan diputar) di Indonesia seabad sekali.

 

 

  • RALAT:

Artikel ini diubah pada 5 Mei 2013. Pembetulan yang dilakukan terhadap fakta dalam versi terdahulu adalah penambahan nama Yudhi Arfani sebagai penata musik yang sebelumnya tidak disebutkan. Pembetulan juga telah dilakukan pada daftar kredit di laman film.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.