Kardus dan Hal-hal Mengganjal Lainnya

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Sesungguhnya siapapun yang bisa berdamai dengan diri sendiri pantas mendapat Nobel. Atau minimal kesempatan kedua. Sepelik itu memang keadaannya. Tanya saja ke Miko (Raditya Dika), jagoan kita dalam Cinta dalam Kardus, film terbaru garapan Salman Aristo. Satu malam, dalam ajang stand-up comedy di sebuah kafe yang berdekorasi seadaanya (catatan tersendiri bagi pembuat film), Miko berteori: setiap hubungan pada akhirnya akan bubar karena salah satu dari pasangan terkena sindrom BTB alias Berubah Tidak Baik.

Argumen Miko bukannya tak berdasar. Nyatanya, Miko adalah veteran perang batin yang tak pernah beruntung setiap berhubungan dengan lawan jenis. Garis cerita Cinta dalam Kardus, yang hampir sepenuhnya terjadi dalam satu malam satu ajang stand-up comedy, menjadi terapi bagi Miko untuk berdamai dengan hal-hal yang mengganjal di hatinya. Sepanjang film, penonton (dan juga penonton di kafe) melihat Miko mengkulik isi kardusnya, menjelaskan cerita di balik setiap suvenir penanda kegagalan hubungan yang pernah ia lalui.

Ada baju bermotif garis horizontal merah-putih, yang tadinya ia mau berikan ke Kirana (Tina Toon). Hubungan dengan Kirana awalnya OK, sampai akhirnya KO karena gadis bertubuh sintal ini selalu minta dibela setiap tidak bisa menemukan baju yang berukuran pas. Jagoan kita mulai jengah ketika Kirana dengan serta-merta menyalahkan koleksi baju suatu toko yang satu pun tidak ada yang pas dengannya. Ada juga kacamata pemberian Klara (Adhitya Putri), yang selalu menuntut Miko untuk menjadi lelaki idamannya. Tadinya Klara minta Miko jadi anak band, yang ke mana-mana pakai kacamata hitam dan kaos band ternama. Tiba-tiba Klara minta Miko jadi anak fitness. Jagoan kita kembali jengah, lalu pergi.

Cara Miko bercerita ini mengingatkan akan film-film Woody Allen, spesifiknya Annie Hall. Miko banyak bicara ke kamera dan setiap suvenir memantik sekuens kilas-balik, di mana kita melihat Miko memperagakan kembali adegan-adegan patah hatinya (dan beberapa kali bicara langsung ke kamera). Faktanya, Cinta dalam Kardus dan Annie Hall punya pembukaan yang serupa: protagonis bicara ke kamera, ke penonton, bercanda sebentar lalu menjelaskan patah hati terbaru yang dialami. Woody Allen meratap tentang Annie, Raditya Dika mengeluh tentang Putri (Anizabella Lesmana).

 

Motif Kardus

Tapi rasanya terlalu menyederhanakan perkara kalau kita berhenti pada perbandingan dengan Annie Hall ini. Pasalnya, kemiripan hanya terjadi di tingkat permukaan. Kalau kita cermati lagi, detail-detail di Cinta dalam Kardus mempunyai keunikan tersendiri yang sesuai (dan turut membangun) materi ceritanya.

Setiap adegan kilas-balik yang bersangkutan dengan Putri ditampilkan secara realistis, di tempat yang nyata dan tidak direka-reka. Sebaliknya, setiap adegan kilas-balik yang dipantik barang-barang dalam kardus ditampilkan dalam latar rekaan yang dominan motif kardus. Dalam cerita dengan Kirana, misalnya, kita melihat ATM tempat Miko dan Kirana pertama kali bertemu dibangun dari kardus-kardus. Begitu pula toko baju tempat mereka berseteru; kita akan melihat baju-baju yang tergantung dalam rak yang terbuat dari kardus. Pola serupa turut muncul dalam kilas-balik soal Klara. Kita melihat suasana orientasi mahasiswa baru yang dominan oleh kardus. Hanya Miko, Klara, dan seorang kakak kelas yang benar-benar nyata. Mahasiswa lain serta segala ornamen pelengkap terbuat dari kardus.

Dari pola ini, ada dua ambisi pembuat film yang kita bisa coba tangkap. Pertama, pembuat film ingin memberi kedalaman bagi tokoh Miko, tokoh yang sebelumnya dikenal khalayak dalam serial Malam Minggu Miko. Dalam serial yang setiap episodenya berdurasi sepuluh menitan itu, kita hanya melihat akibat dari segala kecanggungan Miko terhadap lawan jenis. Di Cinta dalam Kardus, kita melihat sebabnya, atau tafsir visual Salman Aristo dan kawan-kawan akan cara Miko berpikir dan berproses, yang menjadikan film ini cukup bisa berdiri sendiri tanpa harus dikait-kaitkan dengan Malam Minggu Miko.

Setiap perempuan yang Miko sudah lewati, yang sudah disederhanakan menjadi sebuah suvenir dalam kardus, dikenang dengan cara yang parsial, tidak utuh, dan bisa jadi direka-reka untuk mendukung pandangan Miko soal cinta. Sementara itu, episode dengan Putri masih berlangsung. Oleh karenanya, kenangan tentang Putri masih dimainkan secara komplet. Faktanya, ketika Miko mulai berpikiran untuk ‘memasukkan’ Putri ke dalam kardus, motif kardus ini kembali muncul. Dalam satu adegan imajinasi Miko tentang cara memutus hubungan dengan Putri, kita melihat kedua sejoli ini dalam sebuah balon udara yang terbuat dari kardus. Putri sendiri ditampilkan hitam putih, mencerminkan perasaan Miko yang memudar.

 

Membela Perempuan

Kedua, pembuat film berusaha meletakkan brand Raditya Dika dengan tautan sebab-akibat yang lebih rancak. Satu kecenderungan dari film Raditya Dika yang sudah-sudah adalah stereotip perempuan yang menjemukan. Seakan-akan perempuan adalah makhluk yang banyak menuntut, mau menang sendiri, dan tidak bisa bertindak rasional, sementara itu lelaki (atau Raditya Dika) adalah korban pasif yang tak bisa disalahkan. Kecenderungan ini kembali muncul dalam Cinta dalam Kardus, tapi dengan sejumlah ‘pembelaan’ untuk perempuan.

Pembelaan itu datang dari penonton kafe tempat Miko melakukan stand-up comedy. Seusai bercerita tentang Kirana, misalnya, seorang penonton laki-laki berargumen dengan Miko kalau industri busana sekarang hanya menyediakan sedikit pilihan ukuran baju saja, yang tidak mengakomodir perempuan bertubuh sintal macam Kirana. Ia meminta Miko untuk coba memahami pasangannya dari perspektif perempuan. Ada pula pembelaan dari penonton lain, laki-laki juga, yang menuduh Miko terlalu gegabah meninggalkan Laksmi (Sharena Gunawan), hanya karena Laksmi mendadak berubah menjadi cenayang dan bisa melihat makhluk gaib setelah ia tersambar petir. Di sini, kita mendapati Miko (atau spesifiknya Raditya Dika) tidak sebagai penyedia realita tunggal. Pandangan jagoan kita terus-menerus ditantang oleh orang-orang di sekitarnya, dan Miko turut berkembang karenanya.

Pembelaan yang dilakukan para penonton lelaki ini patut diapresiasi, karena mengimplikasikan kalau stereotip perempuan yang selama ini ada (dalam kehidupan nyata maupun film-film Raditya Dika) adalah konsekuensi dari lelaki yang tak mau memahami perempuan lebih jauh. Ini bahkan menjadi otokritik tersendiri bagi laki-laki, dan juga tokoh Miko maupun brand Raditya Dika.

Sayangnya, pembuat film Cinta dalam Kardus tidak meneruskan ‘pembelaan’ ini lebih jauh dengan menampilkan tokoh perempuan yang tidak dibebani oleh stereotip-stereotip tadi, tidak dari gadis-gadis yang berhubungan dengan Miko, tidak pula dari kalangan penonton di kafe. Potensinya sendiri ada. Di kalangan orang-orang yang menonton stand-up comedy Miko, ada pasutri yang sudah lama menikah, tapi si perempuan hanya difungsikan sebagai sumber dagelan di antara dagelan-dagelan lainnya. Ada pula Caca (Dahlia Poland) dan Kipli (Fauzan Nazrul), pasangan remaja yang masalah internal hubungan mereka terkuak sepanjang pertunjukan Miko. Sayangnya pasangan ini hanya menjadi cerminan dari pandangan Miko. Pola perempuan-salah-laki-laki-benar juga turut dilanggengkan, dengan Caca yang secara gegabah memutuskan pasangannya dan Kipli yang berjuang sendirian untuk menyelesaikannya.

 

Kualitas Akting

Hal lain yang disayangkan adalah kualitas akting para pemain Cinta dalam Kardus. Kebanyakan hanya menjadi wayang dari peran-peran yang dituntut skenario. Semua perempuan yang berhubungan dengan Miko terlihat sama saja, mengeluh dengan cara dan nada yang sama padahal masalah yang dialami beda-beda. Kesannya tidak ada yang unik dari galeri perempuan yang ditampilkan sepanjang Cinta dalam Kardus.

Keseragaman ini bisa jadi karena naskah Cinta dalam Kardus mengharuskannya demikian, bagaimanapun juga perempuan-perempuan ini dikerangkeng dalam cara mengenang Miko yang parsial dan berat sebelah. Bisa juga karena memang para pemain gagal menemukan cara untuk ‘menjadi’ tokoh yang seharusya diperankan, gestur-gestur unik yang menjadikan setiap perempuan berbeda dengan lainnya. Tapi kalau memang kasusnya seperti skenario kedua, ini jadi pertanyaan sendiri bagi keseluruhan Cinta dalam Kardus. Kalau setiap perempuan bisa disederhanakan menjadi satu suvenir yang unik dalam kardus, kenapa semuanya seperti tidak punya gestur yang unik?

Cacat-cacat ini yang menjadikan Cinta dalam Kardus kurang luwes dalam menuturkan momen-momen pentingnya. Kebanyakan masih terasa terlalu verbal untuk film yang struktur besarnya dibangun secara visual. Cinta dalam Kardus sendiri bukanlah hasil penyutradaraan terbaik, terutama dari segi penyutradaraan aktor, dari Salman Aristo. Kita mendapati peforma aktor yang lebih baik (dan lebih sesuai konteks cerita) di Jakarta Maghrib dan Jakarta Hati.

Meski begitu, patutlah kita mengapresiasi perkembangan Salman Aristo dalam karier penyutradaraannya. Cinta dalam Kardus menunjukkan kalau Salman Aristo bisa menangani satu garis cerita panjang, berbeda dengan fragmen-fragmen yang ia tangani dalam Jakarta Maghrib dan Jakarta Hati (ataupun dua film pendeknya, Patah dan Pasangan Baru). Patut pula kita menghargai usaha pembuat film dalam menciptakan komedi yang terstruktur dengan koheren, yang detail-detailnya terangkai solid. Cinta dalam Kardus menjadi angin segar tersendiri di tengah film-film komedi lokal belakangan ini yang kebanyakan berprinsip apapun-yang-penting-nyeleneh (salah satunya Cinta Brontosaurus, yang juga dibintangi Raditya Dika). Nyatanya, kita masih butuh kesinambungan supaya bisa tertawa.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.