Gulali Ledak-ledakan, Komedi Ledek-ledekan

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Menikmati karya-karya Anggy Umbara sejauh ini tidak ubahnya seperti menikmati gulali. Warna dari satu gulali ke gulali lainnya bisa berbeda—ada merah, putih, dan warna-warna lainnya. Bentuk gulali dari satu penjual ke penjual lainnya juga bisa berbeda—ada yang bundar, kerucut, dan bentuk-bentuk lainnya. Tapi, apapun warna dan bentuknya, bahan dasarnya ya itu-itu saja: gula yang dipanaskan. Rasanya sama, penyajiannya yang berbeda.

Comic 8 dengan Mama Cake dan Coboy Junior The Movie juga sama rasanya: ramai, megah, dan tak karuan. Penyajiannya yang berbeda. Seperti Mama Cake yang menyajikan efek visual ala komik pada setiap adegannya, Comic 8 sedikit lebih maju dengan efek visual ala film-film laga keluaran Barat. Ada pamer ledakan, adu tembak-tembakan, akrobat jotos-jotosan, dan kejar-kejaran mobil. Sepeti Coboy Junior The Movie yang menampilkan sebuah grup vokal ternama, Comic 8 mengedepankan delapan komika yang tak kalah ternama berkat acara-acara stand-up comedy belakangan ini di televisi. Dalam Coboy Junior The Movie, setiap perkembangan cerita ditandai dengan aksi tari dan nyanyi dari grup vokal yang tertera pada judul film maupun saingannya. Dalam Comic 8, setiap perkembangan cerita ditandai dengan kemunculan salah dua atau tiga komika, lengkap dengan celotehan dan ledek-ledekan mereka. Ada juga penampilan dari bintang tamu idola masa lalu dan masa kini, dari Kiki Fatmala, Indro Warkop DKI, Agung Hercules, Candil, hingga Coboy Junior.

Ceritanya? Soal perampokan bank oleh tiga kelompok perampok, tapi tidak perlulah kita berpusing-pusing soal itu. Bukan itu inti filmnya. Pembuat filmnya juga tidak ambil pusing. Cerita dalam Comic 8 barulah sebatas rangkaian peristiwa, yang disambung-sambungkan lewat kebetulan dan kejutan menjelang penutup film. Menjelaskan apa itu kebetulan dan kejutan yang dimaksud juga tidak akan membantu apa-apa, bukan karena gentar disebut spoiler, tapi karena hanya akan menunjukkan kalau Comic 8 tidak lebih dari tiruan pucat Lock, Stock, and Two Smoking Barrels dan film-film kriminal multiplot sejenis yang marak sepanjang 90an. Comic 8 juga menunjukkan bahwasanya Anggy Umbara sebagai pembuat film belum beranjak dari fase epigon, sebagaimana yang nampak dari film pertamanya dua tahun silam. Ia masih nyaman mengimitasi film-film lain yang jauh lebih baik dan lebih sukses. Keterampilannya mengolah unsur teknis film belumlah diikuti dengan niatan untuk membuat sesuatu yang orisinil.

Satu-satunya hal yang bisa diapresiasi dari Comic 8 adalah ketiadaan pesan moral atau petuah bijak yang biasanya membanjiri film-film garapan Anggy Umbara. Setidaknya nampak kalau pembuat film ini mulai percaya diri dengan kekuatan visual filmnya, juga dengan kemampuan tafsir penontonnya. Dalam Mama Cake, setiap adegan minimal memuat satu pesan moral untuk penonton bawa pulang. Dalam Coboy Junior The Movie, setali tiga uang, dengan intensitas penuturan yang sedikit lebih ramah telinga ketimbang film sebelumnya. Comic 8 tidak begitu. Film ini memang berniat memberi panggung bagi delapan komika idola masyarakat, dan konsisten melakukan itu selama 105 menit durasi film. Tak ada pesan moral, tak ada petuah bijak, hanya ledakan dan ledekan. Selain itu, entah.

 

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.