Nekat Berbahasa Inggris, Budaya Sendiri Kena Linggis

Resensi › Makbul Mubarak

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Konsep film sebagai penopang pariwisata adalah konsep yang sangat masuk akal. Sebagai misal, film Eat Pray Love yang sepertiga bagiannya berlokasi di Bali berdampak pada meningkatnya jumlah pelancong ke Bali pasca rilisnya. Modus penggambaran film Eat Pray Love atas Bali berkisar di seputar tema penyembuhan jiwa dan penemuan cinta. Film ini ditujukan untuk kaum pelancong: apa dan siapa kira-kira yang akan mereka temukan di Bali, kemana sebaiknya berkunjung, lalu bagaimana pulau ini dibingkai dalam penggambaran yang berjarak dari mata seorang pelancong. Segala sesuatu dipindai lewat pandangan Liz Gilbert si tokoh utama yang asing dengan Bali sehingga Bali yang dipotret menjadi terpatah-patah alias tidak utuh. Sedangkal apapun Bali digali dalam film Eat Pray Love, toh logika besar cerita tetap tak terganggu sebab perspektif senantiasa tegas dalam narasi.

Kini muncul film yang menjunjung topik sama namun dibuat oleh anak negeri sendiri, The Right One judulnya. Film ini bercerita tentang dua orang yang berpapasan tak sengaja pada sebuah bar di tengah terik matahari. Jack (Gandhi Fenando) tengah menenggak birnya ketika Alice (Tara Basro) datang dan duduk di sebelahnya. Keduanya terlibat percakapan sekilas yang berlanjut ke perjalanan kecil seharian. Perjalanan kecil ini diselingi banyak flashback yang memaklumatkan bahwa keduanya telah sering berpapasan secara tidak sengaja sejak keduanya masih sangat muda. Benang merah yang menghubungkan The Right One dan Eat Pray Love  adalah bahwa kedua film menjunjung tinggi keindahan berbagai tempat turistik di Bali dan memotret mereka dari tempat yang berjarak.

Masalahnya, keberjarakan dalam The Right One menjadi tidak beralasan sebab kedua tokohnya adalah penduduk lokal setempat. Diceritakan bahwa keduanya kuliah di universitas yang sama di Bali dan telah bertemu satu sama lain tanpa sadar bahkan sejak kecil. Ganjalannya: jikalau mereka benar adalah orang asli Bali, apakah masih masuk akal bagi mereka untuk melihat Bali sebagai tempat yang berjarak? Sepanjang film diputar, tak ada satupun elemen yang dapat menjadi fondasi bagi jarak yang dibangun.

Keberjarakan yang paling kentara ada dalam soal bahasa. 99,9 persen dialog dalam The Right One menggunakan bahasa Inggris. Ini jelas merupakan manuver yang nekat sebab orang Bali pada kenyataannya berbahasa Indonesia atau berbahasa Bali. Satu-satunya penjelasan logis mengenai hal ini adalah jarak yang ingin dibangun di antara tokoh film dan ruang budaya tempat mereka bertumbuh. Bahasa Inggris menjadi semacam tembok yang menghalangi semua tokoh untuk bersentuhan dengan apa yang sebenarnya ingin dipotret oleh film, yakni Bali. Bukannya membantu, bahasa Inggris justru turut meruntuhkan keseluruhan wahana dan wacana kebudayaan pulau Bali yang sedari awal tampak sangat ingin dibangun oleh The Right One

Kedua adalah masalah pemberian nama. Nama-nama tokoh dalam film The Right One menggunakan nama paling pasaran orang Barat: Jack, Alice, Kate, Will, Stacy dan seterusnya. Pertanyaan saya dangkal saja: siapa nama lengkap orang-orang ini jikalau memang mereka adalah orang Bali asli seperti yang diceritakan? Ida Bagus Jack? Kadek Alice? Nyoman Will? Di sini film The Right One menjadi semakin anakronis. Dampaknya, logika cerita yang menjadi korban. Dalam sebuah adegan ditampakkan Ibu Alice dikremasi selepas wafatnya yang menandai bahwa ia adalah seorang hindu. Lantas bila keluarga Alice adalah orang Hindu, bagaimana mungkin namanya bisa menjadi Alice? Sebuah nama yang berakar dalam budaya barat yang jutaan kilometer jauhnya dari kantung-kantung peradaban agama Hindu.  

Satu hal yang terbaca di sini adalah bahwa The Right One sama sekali tidak memperhatikan kekhasan budaya Bali. Potongan-potongan kebudayaan dipotret secara serampangan saja lalu dijejalkan ke dalam gambar tanpa memperhatikan muatan lokal yang seyogyanya terkandung. Bolehlah bila sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang turis macam Liz Gilbert, tapi The Right One memakai mata orang lokal yang anehnya berbahasa Inggris. Siapa sebenarnya mereka? Jikalau mereka orang asli Bali, mengapa mereka begitu tidak familiar dengan budayanya sendiri? Lihatlah sebuah adegan di mana kedua tokoh menonton tari kecak sembari memegang brosur yang biasanya dijadikan bekal bagi para turis yang baru pertama kali menyaksikan tari kecak, sesuatu yang takkan mungkin dilakukan oleh orang Bali yang seyogyanya sudah akrab dengan tarian ini. Di sisi lain, jika mereka adalah orang asing, kenapa mereka mendaulat diri sebagai orang Bali?

Film yang memilih untuk menggunakan bahasa Inggris meskipun seluruh tokoh dan lokasinya adalah Indonesia bisa jadi bukan masalah selama konsep yang dipakai adalah pengandaian tentang sebuah dunia. Logika pembacaannya seperti meminjam logika novel terjemahan. Namun dalam The Right One, ada sebuah adegan dimana seorang pelayan bernama Maya mendatangi kedua tokoh dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, keberadaan bahasa Indonesia masih diakui dalam semesta film namun diletakkan sebagai wacana pinggiran. The Right One memuakkan sebab di tengah imajinasi yang dibangunnya sebagai film pariwisata, budaya lokal diberi jarak dan bahasa lokal diletakkannya di tepi. Walhasil film ini tak bisa dipirsa selain sebagai film yang krisis identitas.

Komentar 4

GandhiFernando
4 tahun yang lalu

Halo, nama saya Gandhi Fernando. Saya pemain dan juga produser film The Right One. Hampir seluruh crew dan cast sudah membaca review yang anda buat. Tapi on behalf of all of us, saya yang akan maju dan take time to reply sama review anda yang benar-benar salah ini. Ya of course, anda berhak mempunyai opini anda sendiri tentang filmnya. Itu sah-sah saja. Tetapi anda disini sepertinya kurang menyimak filmnya.

1. Di film The Right One, seluruh karakter dalam film tidak pernah sekalipun disebutkan bahwa mereka asli Bali atau penduduk Bali. Karakter yang saya perankan tentu saja adalah orang keturunan India dengan orang tua yang juga adalah orang India. Begitu pun dengan Lee (Dave Alexandre/Indonesia-Perancis), Kate (Sheila Tohir/Indonesia-German), Stacy (Tara Wraith/Australia), dsb.

2. Di film disebutkan Alice (Tara Basro) dan Will (Bran Vargas) "I was born in the UK", itu dialogue dari Alice yang sudah jelas dari awal bahwa mereka bukanlah orang asli Bali. Yah benar memang ayahnya yang asli Bali, tetapi saat pengkremasian ibu dari Alice & Will, mereka tidak memakai baju adat Bali dan tidak pernah diberitahukan secara specific bahwa ibu Alice juga adalah orang asli Bali.

3.  Mengenai orang Bali yang berbahasa Inggris dan bukan berbahasa Indonesia atau Bali. Ini tentu saja sudah di riset terlebih dahulu. Pertama-tama karakter-karakter dalam film ini bukan asli Bali, mereka semua pendatang yang tinggal di Bali. Kedua, saat riset kami banyak bertemu orang asli Bali yang modern dan mereka selalu dan sangat fasih menggunakan bahasa Inggris. Mereka pun juga sudah membaca dan menyutujui skenario sebelum kami shooting.

4. Saat Alice & Jack menonton tari kecak, itu bukanlah sebuah brosur. Melainkan sebuah jadwal rangkaian acara-acara apa saja yang akan mereka sajikan pada hari itu. Saya pun memegangnya saat shooting film itu. Plus hari itu sangat panas, jadi kita pakai untuk sekalian kipas-kipas. Which is tidak mengganggu logika dong, orang emang negara tropis kok. Semua turis juga pada kipas-kipas.

5. Soal kedua karakter tidak mengenal budaya Bali… Sekali lagi, mereka pendatang yang tinggal dan sekolah di Bali. Saya saja yang lahir dan tinggal di Jakarta. Keturunan India-Betawi-Manado. Saya belum pernah ke Monas, Lubang Buaya, ke Patung Soekarno-Hatta di Jln. Proklamasi, banyak museum-museum di Jakarta, kebun binatang Ragunan, melihat Patung Pancoran kecuali dari jalan tol atau dari film Adriana, ke TMII kalau kebetulan sedang shooting sinetron saja, serta terakhir kali melihat tari Ondel-ondel saat saya berumur 8 tahun. Which is, 16 tahun yang lalu. Dan tanpa rasa malu, itu memang sebuah kenyataan. Hampir dari semua teman-teman saya pun juga jarang bahkan ada yang tidak pernah pergi-pergi ke tempat pariwisata di kota tempat tinggalnya sendiri. Saat di Bali pun saya banyak bertemu orang yang tinggal di Bali dan belum pernah pergi ke Besakih Pura.

Itu penjelasan yang saya wakilkan on behalf of all cast & crew. Jadi mending anda nonton lagi deh filmnya, dan benar-benar menyimak jalur ceritanya seperti apa.

Defy
4 tahun yang lalu

mas Gandhi, filmnya pake bahasa inggris karna akan diputer di luar negeri ya?

sirjohnkotelawala
4 tahun yang lalu

Kamsia banget boewat boeng Gandhi jang sudah membikin ini film komedi mahadahsjat di awal ini taon. Kalow mahoe bitjara djoedjoer , ini boeng poenja film loewar biasa menghiboer, lebih menghiboer daripada itoe film2 komedi Indische kita jang setelah ditonton, perasaan kitaorang seperti baroe tongkrongin film2 Michael Dudikoff atawa Chynthia Rothrock di misbar2. Maimang rasa2njah blom seloetjoe itoe Ronald Reagan wektu peranin gung ho di toniil2 lawasnjah, seblom dia orang djahadi president. Tapi segala matjem dislocatie, disorientatie boedaja setempat, ketiadaan 'character building' en pengkeramatan anasir2 ngak-ngik-ngok laennjah, dalem twist2 Mooi-Indie a la Bali, bikin film ini avant-garde moetlak2an, boeng.

Ik poenja saran sederhana sahadja. Kalow bisa adegan bakoe-poekoel, bakoe-tipoe, bakoe-tjipok dst dst diperbanjak. Pasar buat film2 beradegan ini loewas bener di negri2 londo. 

Boeng, ajo boeng, kitaorang mesti gotong-rojong bikin madjoe itoe genre komedi Mooi-Indie. Ngebir boeng!

PanjiW
4 tahun yang lalu

Saya baru baca review ini, dan baru mau menyanggah, eh sudah disanggah duluan sama yang bikin film. Saya setuju, review ini salah banget. Saya saja yang bukan kritikus film, atau jurnalis film menangkap kalau tokoh-tokoh dalam film ini bukan orang Bali. Jelas-jelas dibilang lahirnya di luar. Kenapa penulis review ini tidak berpikir bahwa ada alasan di balik penggunaan Bahasa Inggris, dan kemudian menyimpulkan "Oh, mungkin mereka bukan orang Bali, atau bahkan bukan orang asli Indonesia", tetapi langsung mencap film ini "memuakkan". Sungguh pandangan yang negatif dan sangat picik. Menulis pendapat tentang aspek-aspek yang lain (seperti cerita, penyutradaraan, sinematografi) sah-sah saja, bahkan diharapkan dalam review seperti ini. Tetapi kalau faktanya saja salah, bagaimana mau berpendapat?

Untuk Mas Gandhi, lanjut terus! Filmnya bagus dan beda, sangat dewasa dan inspiring, tidak seperti kebanyakan film-film percintaan saat ini.

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.