A Fistful of Locke: Delusi Orisinalitas dalam Nay

Resensi › Mikael Johani

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Kaca mobil adalah metafora untuk layar bioskop. Dari dalam mobil, dunia yang kita lihat tidak lagi jadi utuh, namun terpigura oleh kaca-kaca mobil itu seperti dunia yang kita lihat di sebuah bioskop—terpigura oleh frames pilihan si sutradara. Apalagi jika mobil itu bergerak, kaca-kacanya menjadi metafora yang makin sempurna lagi untuk pengalaman menonton sebuah film, karena bisa disandingkan dengan imaji frames dalam sebuah rol film yang bergerak cepat di dalam proyektornya.

Dalam Nay, film panjang ketiga Djenar Maesa Ayu setelah Mereka Bilang, Saya Monyet! dan Saia, konsep ini dibalik, penonton bukan berada di dalam mobil, namun di luar mobil. Selama hampir keseluruhan 80 menit film ini, penonton hanya disuguhi sosok Nay ngobrol di telepon di dalam mobil dengan berbagai karakter lain yang tidak pernah kelihatan sosoknya. Di akhir film, kita jadi mengerti banyak tentang dilema-dilema kehidupan yang dihadapi Nay sekarang, sejarah hidupnya, dan bagaimana sejarah itu mempengaruhi keputusan-keputusan moral yang harus dia ambil—sambil nyetir.

Djenar bukan orang pertama yang membuat film dengan gimmick seperti ini. Locke (juga nama karakter utamanya, seperti Nay), film Inggris rilisan 2013 yang disutradarai Steven Knight, juga menampilkan satu tokoh saja dan di sepanjang film si tokoh juga harus mengambil keputusan-keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya—juga sambil nyetir.

Kemiripan Nay dan Locke tidak berhenti di gimmick. Cerita kedua film ini pun jika disarikan dalam sebuah treatment akan jadi kurang lebih sama: seorang bayi akan dilahirkan di dunia ini. Salah satu orangtuanya dipaksa untuk memilih, apakah akan membiarkan bayi ini lahir dan mengubah hidup yang mereka jalani sekarang, atau, apakah lebih baik mementingkan karir, yang jadi simbol status quo kehidupan mereka saat ini? Sementara, sejarah hidup mereka seperti mewanti-wanti agar mereka menjadi orangtua yang lebih baik daripada orangtua mereka yang dulu membawa mereka ke dunia namun kemudian menelantarkan mereka. Tapi, “lebih baik” itu seperti apa?

Dan kemudian, kemiripan pun berlanjut di detil-detil kedua film ini, baik di segi plot, dialog, maupun visual.

 

Djenar dan masalah kejiwaan

Selain menelepon, Nay juga berdialog dengan “hantu” ibunya di dalam mobil, tentang bagaimana dia tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan ibunya membesarkan dia. Locke pun begitu, selain bercakap-cakap lewat telepon, di dalam mobil dia juga marah-marah kepada “hantu” bapaknya yang melarikan diri dari kewajiban membesarkannya. Locke ingin menunjukkan bahwa dengan menghadiri kelahiran anaknya, dia tidak akan melarikan diri dari tanggung jawab seperti bapaknya. Perbedaan dari kedua adegan yang berulang-ulang di kedua film ini hanyalah bahwa hantu ibu Nay duduk di kursi penumpang depan, sementara hantu bapak Locke duduk di kursi belakang.

Waktu Nay menelepon Ben, pacar yang menghamilinya, tapi ternyata Mama Ben yang menerima teleponnya, Mama Ben menuduh Nay sebagai cewek murahan yang pasti sudah ditiduri siapa saja sehingga belum tentu Ben adalah ayah janin dalam kandungan Nay. Sementara, waktu Locke mengabari istrinya kalau dia sedang dalam mobil menuju ke London untuk menemani perempuan yang dia hamili melahirkan bayinya, si istri menuduh perempuan yang mau meniduri Locke dalam sebuah one night stand pasti mau meniduri siapa saja sehingga belum tentu Locke adalah ayahnya.

Kemudian, Nay dipaksa untuk memilih antara mempertahankan janin dalam kandungannya atau menggugurkannya agar dia bisa mengambil tawaran menjadi bintang sebuah film/video yang mungkin akan membantunya go international, sementara Locke memutuskan untuk meninggalkan momen pengucuran semen terbesar di Eropa yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya untuk sebuah bentuk tanggung jawab yang lain: menghadiri kelahiran anak “haram”-nya.

Ditambah lagi dengan shots yang nyaris identik (LCD di dalam mobil yang menampilkan log percakapan telepon, misalnya), dalam hal kemiripan Nay vs. Locke jadi hampir sama kasusnya dengan A Fistful Of Dollars vs. Yojimbo, atau Reservoir Dogs vs. City On Fire—menceritakan kisah sendiri dengan mencontek cerita film orang lain.

Contekan-contekan dari Locke menjadi distraksi yang sangat mengganggu tema besar Nay dan tema kesayangan Djenar selama ini: efek kejiwaan dari sexual dan parental abuse. Dari sejak debutnya sebagai pengarang dalam kumcer Mereka Bilang, Saya Monyet! hingga film panjang terakhirnya sebelum Nay, Saia, Djenar seperti tidak bosan-bosannya menggali tema ini. Mungkin karena dia sering disalahmengerti sebagai pengarang dan sutradara yang hanya mengeksploitasi seks, padahal yang ingin dia lakukan sebenarnya adalah mengeksplorasi efek-efek kejiwaan pada orang-orang yang mengalami kekerasan seksual.

Djenar mungkin salah satu dari sedikit sutradara (dan pengarang) Indonesia yang mengolah tema masalah kejiwaan dengan konsisten dan serius, di tengah-tengah kecenderungan untuk memarjinalkan tema ini menjadi latar belakang sambil lalu karakter-karakter “gila” dalam film-film genre (Sundel Bolong Suzanna sebelum menjadi hantu adalah gadis yang bunuh diri setelah diperkosa). Selain Djenar akhir-akhir ini mungkin hanya Sekar Ayu Asmara yang juga konsisten mengolah tema ini, baik dalam filmnya Belahan Jiwa (2005) maupun dalam novel-novelnya yang sering menampilkan tokoh-tokoh skizofrenik secara simpatik. Salah satu novel itu, Pintu Terlarang, juga sudah diadaptasi dengan setia oleh Joko Anwar menjadi film psycho-thriller-horror-gore yang menawan.

Melakukan pembacaan psikoanalitis terhadap cerpen, novel, dan film Djenar bisa mengungkapkan hal-hal yang mungkin tidak akan terbaca lewat teori-teori lain. Hiperseksualitas tokoh Saya dalam Saia misalnya, bisa dimaknai lebih dalam jika kita tahu bahwa itu adalah salah satu simtom mania pada penderita bipolar disorder, sehingga mungkin salah satu poin Djenar dalam Saia, selain menawarkan komentar teoretis tentang apa itu yang sebenarnya tabu dalam pornografi, adalah sebuah poin yang lebih pragmatis: menyelami dan mengangkat karakteristik penyakit jiwa yang masih sering distigmatisasi di masyarakat sehingga menjadi tabu tersendiri yang tidak pernah dibahas.

Nay sebenarnya bisa menjadi kristalisasi dari tema-tema kejiwaan favorit Djenar di atas. Mengunci Nay sendirian di dalam mobil (bandingkan dengan mengunci Saya bersama Ia di sebuah cottage di Saia), tanpa kemungkinan untuk menampilkan seks itu sendiri (bandingkan dengan Saia yang menampilkan hanya adegan seks hampir sepanjang film), Djenar ironisnya menjadi bebas menggunakan Nay sebagai megafon renungan-renungannya tentang efek-efek psikologis jangka panjang kekerasan mental, fisik, maupun seksual terhadap anak—serta juga kemarahannya terhadap hipokrisi moral masyarakat yang sering justru menganggap gila korban kekerasan tersebut (mereka bilang, saya monyet!), dan bukan pelakunya. Semua ini bisa dia tumpahkan dalam monolog dan percakapan imajiner Nay dengan “hantu” ibunya.

Karakter Nay yang sayangnya diperankan secara klise dan overacting oleh Sha Ine Febriyanti (apakah orang yang lagi pusing selalu harus memukul kepala sendiri?) digambarkan sebagai karakter yang delusional (ngomong dengan ibunya yang tidak kelihatan), mungkin juga bipolar (mood-nya bisa berubah dalam sekejap dari ngamuk ke ketawa-ketawa). Mungkin dengan karakter Nay yang kali ini (nama Nay atau Nayla sudah berungkali muncul dalam cerita-cerita Djenar sejak cerpen Waktu Nayla dalam kumcer pertamanya)—Djenar ingin menunjukkan bahwa justru kadang-kadang orang yang dianggap gila (monyet!) lebih punya sensitivitas terhadap hal-hal yang benar-benar gila dalam masyarakat (kekerasan seksual, misalnya) sehingga merekalah yang mampu membongkar hipokrisi moral yang sering malah menjungkir-balikkan kenyataan tersebut.

 

Nay kurang meta

Jalur perjalanan mobil Nay yang berputar-putar tak tentu arah dan tak pernah sampai tujuan, jika memang disengaja, bisa saja memperkuat gambaran bahwa Nay menderita delusi yang sudah lumayan akut (jika memang lokasi geografisnya dipilih/diedit secara sengaja, mobil itu pernah melaju dari Sudirman ke Thamrin on the way ke… Kemang!), sekaligus mungkin menjadi metafora bahwa hidup sebenarnya akan berputar-putar begitu saja, bahwa Nay mungkin sekali hanya akan mengulang kesalahan-kesalahan ibunya walaupun ia begitu benci padanya dan bertekad membuktikan dirinya bisa menjadi ibu yang lebih baik.

Jika itu benar, ada dua macam split dalam Nay, di dalam tubuh filmnya sendiri—mengeksplorasi tema khas Djenar sementara pada saat yang sama mencontek habis-habisan struktur film Locke—dan di dalam karakter Nay sendiri: terbelah antara menyerah kepada ekspektasi lingkungan di sekitarnya (lirik soundtrack yang digarap Zeke Khaseli di awal dan akhir film berbunyi, “Ekspektasi, terlalu tinggi…”) untuk menggugurkan kandungan dan mengejar karir, atau melawan pengaruh ibu di dalam hidupnya dengan membuktikan dirinya bisa menjadi ibu yang lebih baik bagi anaknya.

Apakah kedua split ini dimaksudkan untuk merefleksikan satu sama lain, bahwa bukan cuma orang saja yang bisa punya split personality, film pun juga bisa?

Jawabannya tergantung pada apakah di dalam Nay ada bukti-bukti tekstual bahwa contekan-contekan dari Locke itu memang disengaja dan diakui (misalnya, bisa dalam bentuk Nay ngobrol tentang film Locke di telepon) sehingga Nay bisa jadi film yang lebih meta, memberikan komentar sosial sekaligus mengomentari diri sendiri.

Sayangnya, bukti-bukti seperti ini tidak ada. Yang ada hanya pengakuan extratekstual Djenar di Twitter bahwa Locke (dan Taste of Cherry dari Kiarostami menurut klaimnya) memang salah satu sumber inspirasinya. Namun di dalam Nay sendiri tidak ada rekontekstualisasi maupun modifikasi yang cukup (yang ada hanya relokasi dan tempelan tema tambahan) terhadap hal-hal yang dicontek Nay dari Locke.

Hal-hal yang dicontek tadi dengan gampang masih bisa kita kenali sebagai elemen-elemen dari film Locke, belum dimanipulasi menjadi hal yang (terkesan) baru dan orisinil (padahal KW) yang mampu memukau dan mengelabui kita. Sementara, seperti yang bisa kita lihat dalam film-film Tarantino setelah Reservoir Dogs, dan juga bisa kita dengarkan di lagu-lagu pop kekinian dari Daft Punk sampai M.I.A., contekan bisa jadi bagian dari karya yang keren dan orisinil jika dimanipulasi dengan lihai, bukan cuma dikopi begitu saja.

Memang, sekarang adalah zaman “unoriginal genius”. Sampling, reappropriating, reproducing, lifting, mash-ups sudah menjadi metode berkesenian yang sama validnya dengan bertapa menunggu wangsit ilahi kemudian menorehkannya ke atas daun lontar. Namun, yang terjadi di Nay barulah contek-menyontek old skool tanpa usaha lebih lanjut untuk menggubah sesuatu yang baru dari contekannya. Hasil akhirnya belum genius, baru unoriginal.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.