Bumi Manusia, Bumi Masyarakat Kontemporer dengan Persoalannya

Resensi › Bre Redana

Penilaian penulis:  
 (5/10)

RAMAINYA perhatian orang terhadap Bumi Manusia bahkan sejak penentuan siapa sutradaranya ketika novel karya Pramoedya Ananta Toer itu hendak dibikin film, terus terang lumayan menarik perhatian saya. Ketika film beredar, saya menonton pada hari kedua film tersebut diputar di bioskop di Bogor. Dari situ saya terdorong untuk membikin catatan ini.

Catatan yang saya buat mencoba menyorot dua aspek. Pertama, aspek alih medium, dari buku ke film. Kedua, bagaimana konsekuensi dari pengalihan medium, dalam hal ini dari buku ke film, terutama pada segi estetik. Film, selain sebagai produk industri dan barang dagangan, adalah juga produk estetik. Pada konsekuensi pengalihan medium saya sedapat-dapatnya membatasi pada hal terakhir itu saja.

I

DIMULAI dari yang pertama, mengenai alih medium. Dari waktu ke waktu, sampai sejauh ini saya masih percaya pada maksim Marshall McLuhan: “the medium is the message”. Bagi generasi yang memorinya tidak terbentuk dari proses membaca, baiklah saya singgung terlebih dahulu mengenai ungkapan yang sangat terkenal itu, diucapkan oleh banyak orang baik yang pernah membaca bukunya maupun oleh mereka yang pegang bukunya saja tidak pernah.

Era 60an, selain melahirkan dewa-dewa musik rock, juga memunculkan pemikir yang seperti layaknya bintang pop, dipuja-puja anak-anak muda dan menebarkan pengaruh bahkan sampai pada masa sesudahnya. Salah satu pemikir kondang pada zamannya adalah Marshall McLuhan, akademikus dari Kanada.

Tahun 1964, kira-kira bersamaan saat The Beatles menginvasi Amerika dengan Love Me Do dari album “Please Please Me”, McLuhan meluncurkan bukunya, Understanding Media: The Extension of Man. Buku itu menyoroti mulai maraknya media elektrik (electric media) seperti telepon, radio, film, dan televisi. Media-media baru (pada zaman) itu menurut dia akan meruntuhkan tirani media sebelumnya, yakni media cetak.

Dia mengalamatkan kritiknya pada teknologi Gutenberg—penemu mesin cetak di Jerman pada abad ke-15, yang dengan temuan tadi wajah peradaban menjadi berbeda dari sebelumnya. Dengan ditemukannya mesin cetak, dengan berkembangnya buku, masyarakat menjadi individu-individu yang terisolasi. Selama berabad-abad mereka mengunci diri dalam ruang kesendirian dalam ruang baca, membaca buku.

Media elektrik menurut dia bakal mendobrak sekat-sekat individu itu, membawa “simulasi teknologi terhadap kesadaran, proses kreatif dan pengetahuan akan meluas ke semua manusia”. Dari temuan teknologi, McLuhan telah meramalkan bahwa dunia bakal terhubung oleh jaringan (networks). Beranjak dari pandangannya terhadap dunia sebelum terisolasi oleh lahirnya media cetak, dengan teknologi baru yang melahirkan jaringan, dunia akan menjadi “kampung besar” (global village).

Betulkah ramalannya? Bukankah demikian kurang lebih dunia yang kita hidupi sekarang? Sebuah kampung besar? Seperti di kampung, gosip apapun segera tersebar luas? Makin sulit menemukan ruang pribadi. Peselingkuh mati kutu, jadi cepat ketahuan.

 

GLOBAL village menjadi istilah tak kalah terkenal. Yang perlu dicatat, menurut McLuhan segala perubahan terjadi bukan dikarenakan pesan yang disampaikan oleh media, melainkan disebabkan oleh media atau medium itu sendiri.

Orang selalu mengatakan apa pun mediumnya yang penting adalah isinya, pesannya. Teknologi sekadar alat. Manfaat dan mudaratnya ditentukan oleh sikap dan cara kita memanfaatkan medium, memanfaatkan teknologi.

Bagi McLuhan, kenyataannya tidak demikian. Orang abai terhadap medium: koran yang menyebarkan berita; radio yang melantunkan musik; televisi yang mempertontonkan citra; telepon yang mengantarkan suara; dan seterusnya. Medium, lebih berpengaruh daripada isi. Dalam bahasa dia, isi atau konten media tak ubahnya “daging segar yang dibawa oleh pembobol rumah untuk mengalihkan perhatian anjing penjaga dalam otak kita”. Lebih lanjut, kalau kita mempelajari teknologi media, teknologi seperti teknologi digital sekarang sebenarnya juga mengevolusi sistem saraf serta neuron di otak kita.

Khusus untuk film, perlu saya menyebut kritikus film legendaris asal Inggris yang tinggal di Amerika, David Thomson, yang menyebut hal kurang lebih serupa. Daya kritis dan keraguan kita, menurut dia, dijadikan lumpuh oleh kepastian suatu medium. Menurut dia, sinema tidak hanya memproyeksikan sensasi dan sensabilitas di layar, tapi juga pada penonton yang telah patuh dan terserap perhatiannya pada ruang gelap gedung bioskop.

 

KEMBALI ke Bumi Manusia, sifat medium yang diabaikan sebagian besar orang inilah yang kira-kira membuat kita tidak lagi sadar, bahwa yang sedang digembar-gemborkan banyak orang, diiklankan secara besar-besaran sebagai film, adalah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam celotehnya di Twitter, Ariel Heryanto, akademikus yang juga populer bak selebriti berucap: “Novelnya dilarang. Sebagian pembacanya dipenjara bertahun-tahun. Pengarangnya ditahan belasan tahun tanpa diadili. Lalu dibebaskan tanpa dibersihkan namanya. Tanpa maaf negara terhadap novelis dan keluarganya. Apalagi ganti rugi. Kini novel itu jadi komoditas.”

Apa arti semua itu? Dengan film Bumi Manusia digelar secara terbuka, menjadi tontonan keluarga sembari makan pop corn tanpa takut diciduk tentara, apakah berarti rejim sekarang lebih toleran terhadap PKI seperti dituduhkan terhadap Pram dan karya-karyanya?

Oh, sama sekali tidak. Rejim ini sama saja dengan rejim-rejim sebelumnya. Ini hanya masalah medium. Film sebagai medium kodratnya adalah hiburan.

Kalau seperti diteorikan Ben Anderson bahwa media cetak menciptakan “masyarakat terbayangkan” yang kemudian melahirkan negara bangsa, film adalah komoditas waktu luang masyarakat urban yang jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Kalau media cetak kita ibaratkan pamflet perjuangan sosialisme, poster film adalah pamflet bujuk rayu kapitalisme. Harapannya: siapa tahu sebentar lagi para pejabat, menteri, atau presiden, menyelenggarakan nobar seperti terhadap film-film laris sebelumnya.

II

DENGAN menempatkan medium sebagai determinan suatu karya, kini saya ingin masuk bagian kedua catatan saya: Bumi Manusia sebagai film. Medium itu sendiri sudah dengan sendirinya menentukan, bahwa Bumi Manusia adalah karya sang sutradara, yakni Hanung Bramantyo. Dalam bahasa masa kini: a film by Hanung Bramantyo (bedakan dengan novelnya: a novel by Pramoedya Ananta Toer).

Bagaimana nasib transformasi Bumi Manusia sebagai film yang berangkat dari sebuah buku? Berbeda dari beberapa orang yang telah membaca novelnya dan memuji-muji kesetiaan sutradara terhadap novelnya, saya justru berpandangan sebaliknya. Buat apa mengalihkan teks buku begitu saja, sesuai urut-urutan (dengan pemotongan dan pemilihan tentunya) ke media berbeda? Sebab, media yang berbeda ini jelas memiliki kemungkinan-kemungkinan yang tidak dimiliki oleh media sebelumnya. Pengalihan medium umumnya menuntut kreativitas, atau bahkan tafsir baru dan gagasan baru.

Saya tidak ingin membeberkan seabrek contoh karya sastra yang dialih-mediumkan ke film. Cukup satu saya ambil secara acak, The Graduate tahun 1960an karya sutradara Mike Nichols berdasar novel dengan judul sama karya Charles Webb. Pembaca buku barangkali mengenang pergulatan anak muda bernama Benjamin Braddock dalam proses menjadi dewasa, termasuk proses kebangkitan seksualnya. Dalam film, sutradara memberi kenangan yang tak terlupakan sepanjang masa, ketika perempuan separuh baya, diperankan Anne Bancroft, melepas stocking di depan pemuda ingusan Braddock yang diperankan Dustin Hoffman. Adegan tak lebih tiga detik yang dikenang sepanjang masa oleh generasi 60an.

Pada Bumi Manusia, sepanjang film saya menunggu-nunggu adegan yang menyuratkan atau menyiratkan sikap dan gagasan sutradara terhadap Bumi Manusia. Penantian saya sia-sia. Sepanjang film saya disuguhi pengalihan teks ke gambar, dengan reduksi imajinasi visual yang sepertinya terkendala production value.

Prop terlihat miskin. Saya kurang peduli mengenai akurasi sejarah, bahwa rumah Nyai Ontosoroh misalnya, harus seperti rumah orang kaya di Jawa Timur pada akhir abad ke-19. Saya sadar, film bukanlah mata kuliah arkeologi, antropologi, atau sejarah. Sebagai karya estetik, film—sebagaimana karya estetik lain—berhak mengembangkan atau bahkan meliarkan imajinasinya.

Problemnya, kediaman Nyai Ontosoroh sebagai orang kaya pada zaman itu, dibuat—selain tanpa acuan—juga imajinasi terbatas mengenai: 1. Keadaan sebuah zaman; 2. Orang kaya; 3. Rumah. Akibatnya: ya suka-suka gue, begitu kira-kira si pembuat rumah. Gerbang masuk digantungi papan bertuliskan Buitenzorg, yang barangkali lebih tepat sebagai aksesori panggung teater yang gagal menggaet modal dari sponsor. Seluruh properti film tampak baru, gemebyar seperti tontonan televisi yang diakrabi penonton Indonesia bernama sinetron.

Tata cahaya, cara kerja kamera, pengadeganan, benar-benar mengingatkan pada sinetron-sinetron kita. Begitu pun kostum dan tata rias. Siluet kumis dan jambang pada para lelaki remaja tampaknya sedang menjadi mode. Kumis artifisial kita lihat pada pemeran Minke dan lain-lainnya.

Konservatisme sinetron tak lepas menghinggapi film ini. Adegan hubungan badan Minke dan Annelies sebegitu dingin. Tentu untuk hal ini sia-sia saya menuntut lebih. Kebudayaan kita tengah menjalani proses konservatisme dan purifikasi. Kesenian kehilangan daya dobrak.

Penantian sepanjang film berujung pada sesuatu yang membingungkan, ketika film ditutup dengan suara lagu yang dinyanyikan dengan gagah, Ibu Pertiwi. Lagu ini pula yang menjadi pembuka film. Saya tak mau menggagas lebih lanjut. Lagu tadi memiliki problematik tersendiri sebagai karya.

Saya hanya sadar, Bumi Manusia sebagai film adalah bumi masyarakat kontemporer dengan segala kerunyamannya, melebihi persoalan Minke pada zamannya.

***

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.