Tinjauan Terikat Masa Lalu, Terikat Keluarga, Terikat Tradisi

7/10 JB Kristanto 02-05-2013

Ada yang sangat pantas menjadi bahan diskusi dalam film 9 Summers 10 Autumn (9S10A): keluarga. Sudah ratusan film bertema keluarga dibuat (umumnya tentang hubungan suami-istri, anak-bapak dan lain-lain) hingga hampir ada isitilah “film keluarga” sebagai genre tersendiri, tapi hampir tidak ada yang memasalahkan fungsi keluarga itu sendiri. Lebih khusus lagi: soal kedudukan anggota keluarga atau pribadi berhadapan dengan entitas keluarga. 9S10A mencoba mengulik masalah ini.

Dengan bantuan suara tokoh utama Iwan (Ihsan Tarore)—bentuk penceritaan yang terlalu gampangan untuk dipakai—penonton diajak untuk memahami perjalanan hidupnya dari kecil yang miskin sampai menjadi direktur di perusahaan multinasional di New York. Sebuah rentang waktu yang mungkin hanya separuh dari seluruh hidupnya, karena sang tokoh ini masih hidup dan masih “muda”.

Suara Iwan yang tampil pada saat-saat diperlukan untuk “memberi takanan” pada simpul-simpul penting hidupnya itu, mengiringi cerita ulang-alik antara masa kini (New York) dan perjalanan hidup sebelumnya. Boleh dibilang penulis skenario (Fajar Nugros, Ifa Isfansyah, Iwan Setiawan yang menulis kisah aslinya) dan sutradara (Ifa Isfansyah) mengambil sikap refelektif atau lebih tepat mengenang peran keluarga dalam hidup Iwan.

Hal ini diperkuat dengan “kesimpulan” Iwan di akhir film ketika diminta berceramah tentang sukses kariernya di sebuah balai pertemuan di kota kelahirannya, Batu. “Empat pilar mendukung saya. Ibu, kakak dan adik-adik,” katanya. Semuanya perempuan. Dan semuanya dengan cara masing-masing bisa menuntaskan pendidikan formalnya hingga universitas.

Bapak tidak disebut. Tergambar, sang bapak (Alex Komang bermain bagus di film ini), yang sejak awal film selalu menjadi penghalang niat Iwan, keluar dari ruang pertemuan. Bapak, yang sopir angkot dan sepanjang hidupnya berada di jalanan, memang “kalah” dalam “mendidik” Iwan sesuai gambaran idealnya seorang lelaki jalanan. Tapi, bapak tidak patah. Pekerjaan sopir yang ditekuninya tidak pernah ditinggalkan. Termasuk resiko masuk penjara. Baru setelah pertemuan berakhir, Iwan mendatangi bapaknya yang bersender di mobil dan berkata: sekarang gilirannya menyopiri bapak.

Perjalanan sukses karier dengan demikian bukan yang terpenting dalam film ini. Itu hanya menjadi landasan dan alasan untuk mengemukakan perihal fungsi keluarga. Karena itu, beberapa contoh keberhasilannya dalam menerapkan ilmunya (statistika dan matematika) dalam membantu ibu pemilik warung tempatnya berlangganan makan maupun dalam mempermulus sukses kerjanya tidak didetil-detilkan.

Terikat

Keterikatan akan masa kecil, keterikatan akan kehangatan ibu yang selalu membelanya terhadap sikap keras ayah hingga mengesankan Iwan adalah “anak ibu”, keterikatan itulah yang menjadi cerita utama. Tidak aneh, bila bentuk ulang-alik dari masa kini ke masa lalu menjadi pilihan bentuk penceritaan. Bahkan, tidak cukup dengan itu, penulis skenario dan sutradara menghadirkan “sosok Iwan kecil” secara fisik untuk menjadi teman dialog dan teman curhat Iwan besar di New York. Saat dia berada di “puncak” kariernya. Bahasa visual yang menggabungkan masa lalu dan masa kini dalam satu bingkai gambar ini efektif untuk mengemukakan gagasan keterikatan itu. Bahasa serupa—dalam gagasan dan bentuk penceritaan lain—kalau tidak salah pertama kali dipakai oleh Ingmar Bergman dalam Wild Strawberies (1957) yang sangat indah.

Sampai di titik ini kerja Ifa dan kawan-kawan boleh dibilang selesai dengan cukup baik, meski ada catatan tentang hasil sinematografi yang tidak konsisten warnanya di sana-sini dan editing yang terkadang mengganggu ritme. Ifa berhasil mengemukakan dengan cukup utuh apa yang menjadi gagasannya. Dan tampak sekali, Ifa dan kawan-kawan bekerja keras untuk itu.

Diskusi yang bisa diajukan justru pada gagasan itu. Dalam hal ini, mungkin Ifa sebagai sutradara dan penulis skenario tidak bisa disalahkan seluruhnya, karena dia “hanya” bisa mengadaptasi dan “memilih atau memberi penekanan tertentu” dari kisah yang sudah jadi buku. Apalagi sang penulis buku ikut aktif juga.

Sebuah film yang bisa memantik diskusi, meski mungkin di luar apa yang dimaui pembuatnya, tentu bukan film sembarangan. Diskusi itu rasanya penting untuk diajukan justru karena bisa memberi perspektif lain tentang keluarga atau lebih luas lagi tentang kebudayaan.

Keluarga Iwan di kota kecil Batu dan dari kelas masyarakat “bawah” adalah keluarga dengan kaki langit tradisional untuk tidak disebut sempit: anak laki-laki harus jadi penopang keluarga; anak laki-laki harus didahulukan dibanding perempuan; anak laki-laki tunggal lebih jadi perhatian tanpa anak perempuan lain harus iri. Pilihan hidup pun tidak banyak karena secara ekonomis tidak memungkinkan. Bahkan seluruh tenaga habis untuk bisa menjalani hidup hari ke hari.

Iwan berhasil lepas dan mendapat kaki-kaki langit lain yang tak terhingga. Kaki langit baru itu tampaknya memberi rasa tak nyaman bahkan mungkin limbung karena tak menjanjikan kenyamanan keluarga, kenyamanan tradisi, kenyamanan ibu. Maka dia membuat keputusan penting: pulang. Tawaran sangat menarik untuk memimpin cabang perusahaan tempatnya kerja di Paris ditolaknya. Dia mantap dengan pilihannya. Padahal, haruskah karier dan kenyamanan tradisi dan keluarga dipertentangkan? Ini bukan pilihan either/or. Kalaupun pilihannya either/or, apakah kenyamanan masa lalu yang jadi pilihan? Dan ini terjadi tanpa tergoda oleh petualangan besar di kaki langit tak terhingga meski tak sepenuhnya nyaman? Hanya ketidaknyamanan yang bisa membuat orang bergerak dan tidak mandeg. (Ingat refrain lagu Bob Dylan, Like a Rolling Stone (1965): How does it feel/ How does it feel/ To be on your own/ With no direction home/ Like a complete unknown/ Like a rolling stone?)

Sikap film ini mirip perkataan almarhum Pramoedya Ananta Toer saat menyindir budaya Jawa yang disosokkan pada RM Sasrokartono (kakak RA Kartini), orang Jawa pertama yang mengenyam pendidikan filsafat barat, pernah bekerja sebagai wartawan untuk New York Herald Tribune dan konon fasih berbicara dalam 23 bahasa. Dia pun pulang dan kemudian dikenal sebagai dokter air putih, karena bisa menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan air putih. Dia jadi salah satu tokoh kebatinan. “Orang Jawa itu tidak berani menembus plafon. Kalau sampai di plafon, maka dia akan melengkung balik…,” katanya.