Artikel/Sosok Christine Hakim: "Tjoet Nja Dhien" Perfilman Nasional

Sosok 01-09-2004

Christine Hakim siang itu mengenakan gaun berbahan sutra putih dengan bintik-bintik hitam. Celana baggy-nya terbuat dari beludru lembut berwarna hitam, dilengkapi ikat pinggang besar dengan gesper berkilat. Rambut tertata rapi, aura hairspray terlihat di beberapa sudut—satu penampilan wanita kota besar yang modis, sekaligus bintang film yang bisa membuat orang menoleh bila berjumpa di tempat umum. Selebihnya, kesan santai.

Santai, itulah memang yang ingin ia kesankan lewat penampilannya, serta benar-benar ingin dicapainya. Ia ingin menarik napas dari pacuan kerja keras yang baru saja dilakukannya. Kerja keras yang dimaksud adalah penyelesaian film Tjoet Nja Dhien (1986). Di tengah kegiatan perfilman Indonesia yang menghangat dengan FFI, Christine, Tjoet Nja Dhien, beserta seluruh kerabat kerjanya, benar-benar harus dianggap fenomena khusus.

Maka, ini merupakan kisah tentang idealisme, cita- cita, kerja keras, pengorbanan, kecintaan pada satu profesi, yakni film. Kisah khusus yang rasanya pantas diselipkan di tengah kisah festival yang sebagian besar berarti kisah pesta. Kisah tentang kerja di tengah riuhnya hura-hura.

***

Dengan dandanan seperti dikenakannya, dengan sikap seperti ingin menarik napas santai seperti sekarang, Christine sebetulnya sedang ingin melepaskan diri dari peran yang selama dua tahun dibawakannya, yakni sebagai Tjoet Nja Dhien. Kami masih ingat ketika Pekan Film Nasional di Bali 1986 lalu Christine sudah tampil dengan pakaian hitam-hitam (warna pakaian Tjoet Nja Dhien), dan terus memasang wajah angker di tengah pesta yang berlangsung. Pembuatan film yang baru saja rampung ini memakan waktu dua tahun.

Ada banyak metode penghayatan suatu peran. Christine– kalau menyimak ceritanya–dalam Tjoet Nja Dhien sebenarnya mengambil metode ’menjadi’ (to be), artinya menjadi tokoh yang diperankannya. Cara ini berbeda dengan cara berperan—sebutlah—as if (sebagai). Berbagai cara memang digunakan aktor-aktris. Cara seperti ’menjadi’ ini juga digunakan, misalnya, oleh Robert De Niro.

Christine selalu mengatakan bahwa ia tak melakukan studi khusus tentang film. Semua yang dilakukan adalah hasil merekonstruksi pengalaman demi pengalaman yang telah dilaluinya. Kebutuhan membimbingnya untuk melakukan sesuatu yang ia rasa bisa memaksimalkan pencapaian seperti yang ia inginkan. Begitu membaca skenario yang dibuat oleh Eros Djarot, Christine langsung menangkap, ini kerja berat. Justru karena tugas berat yang dibayangkannya, kepada Eros Djarot waktu itu ia menyatakan kesediaan untuk membantu apa saja demi selesainya film ini. Ia merasa terpanggil dan merasakan dorongan kuat bahwa film tentang tokoh pejuang dari Aceh itu benar-benar harus dibikin. Untuk membantu kerja besar ini Christine waktu itu bahkan menyatakan sebaiknya tidak main. Dengan demikian bantuan yang ia berikan lebih optimal. Tapi setelah ditimbang-timbang, rasanya tak ada yang lebih pantas darinya untuk memerankan tokoh Tjoet Nja Dhien.

Kerja menyiasati pemeranan segera siap begitu Christine menyatakan kesediaan. Eros menyodorkan beberapa buku tentang tokoh itu, dan berbagai latar belakang mengenai Aceh serta perang Aceh. Gambaran tokoh Tjoet Nja Dhien yang cantik jelita dan seperti mengenakan pakaian pesta dalam buku-buku pelajaran sejarah jelas memerlukan penafsiran lebih dalam. Dari segi fisik saja, tidak mungkin wanita ini seperti digambarkan buku pelajaran itu, mengingat ia telah berkelana di hutan belantara Aceh yang seram selama lebih daripada 30 tahun, sejak Perang Aceh meletus pada 1873.

Di tengah hutan, di hari tua menjelang ditangkap oleh Belanda, Tjoet Nja Dhien telah buta. Ia telah compang-camping, fisiknya rapuh karena tempaan medan yang berat. ”Mencari contact lens untuk mencapai efek seperti mata Tjoet Nja Dhien yang mulai buta pun sudah mulai susah. Matanya kan rusak karena katarak. Saya dan Mas Eros berkonsultasi dengan dokter mata untuk keperluan itu. Akhirnya contact lens untuk keperluan itu didapat, dengan pesan ke London,” cerita Christine.

Berbagai eksperimen mengenai kulit yang rusak tak terawat juga dilakukan, antara lain dengan membiarkan wajahnya disengat matahari tanpa dilindungi kosmetik sama sekali agar kesan keriput tua pada kulitnya bisa diperoleh. ”Seminggu lebih saya melakukan uji make up, tapi tidak juga diperoleh hasil yang bagus. Malah eksperimen tata wajah membuat wajah saya tampak seperti kuntilanak. Padahal film ini kan bukan film horor,” katanya sambil tertawa mengenang masa lalunya.

Ia lalu mulai berpikir apa yang menyebabkan kulit berkerut. Dan proses itulah yang ia jalani. Penata rias Andy Marlan sampai mengkhawatirkan Christine dengan berbagai eksperimen itu. ”Dia mengkhawatirkan kulit saya rusak. Berapa lama sih pembuatan film? Soal kulit, ntar juga baik lagi,” ia menambahkan. Satu sikap tak tanggung-tanggung, tak mau direpotkan hal-hal sepele.

Ini baru soal fisik. Dengan cara bermain seperti akan dilakukan Christine, hal-hal yang lebih dalam harus dilakukan, yakni mencoba memahami Tjoet Nja Dhien secara penuh agar tokoh itu masuk dalam jiwanya. Inilah tantangan metode ’menjadi’.

Selain membaca buku-buku, ia mulai berkelana di Aceh. Ia mengunjungi dan tinggal di beberapa keluarga yang mengaku masih ada hubungan keluarga dengan tokoh yang bakal diperankannya. Untuk menghayati tempaan-tempaan fisik yang dirasakan Tjoet Nja Dhien, ia menelusuri kembali rute yang pernah dijalani Tjoet Nja Dhien. Tak ada pilihan lain: hutan-hutan, gunung-gunung, dan sungai-sungai Aceh. Padahal, jalan-jalan umum di Aceh Barat atau Aceh Selatan saja sebetulnya sudah tergolong berat. Dari mobil kadang orang harus berganti perahu. Memasuki rute Tjoet Nja Dhien berarti harus masuk hutan, harus naik gunung. Ia sampai ke daerah Betong, benteng terakhir perlawanan Tjoet Nja Dhien. Tempat itu memerlukan dua hari perjalanan dari Meulaboh, ibukota Aceh Barat.

Mulai saat itu Christine juga sudah melulu berpakaian ala Aceh. Ini untuk menghayati semua gerak orang dari subkultur tersebut. Hanya dengan penghayatan seperti itulah Christine merasa bisa memasukkan ’semangat’ tokoh yang hendak diperankannya ke dalam dirinya. ”Kalau saya lihat kembali foto saya waktu shooting, kelihatan sangat berbeda dari sekarang…,” tuturnya renyah. ”Sorot mata saya sangat lain. Mata itu tak bisa dibohongi. Lain benar mata orang yang biasa hidup di hutan dan mata orang kota. Waktu itu saya arahkan konsentrasi saya untuk terus melihat hutan, melihat alam, melihat seramnya hutan, tidak melihat yang lain-lain dulu,” katanya.

”Saya hampir mati di satu sungai di Tangse,” cerita Christine tentang pengalamannya yang lain waktu itu. Dan hasil semua itu? Barangkali seperti bisa dilihat pada diri Tjoet Nja Dhien yang diperankannya. Tokoh yang sekokoh batu karang, seperti menggeram bahkan ketika diam.

***

Pencapaian pemeranan Christine dalam film ini boleh dibilang merupakan puncak tersendiri dalam dunia akting film Indonesia, sehingga tak berlebihan kalau ia sekarang boleh disejajarkan dengan aktris-aktris terbaik dunia macam Meryl Streep. Coba perhatikan bagaimana ia melayani permainan Slamet Rahardjo di adegan-adegan awal Tjoet Nja Dhien.

Pada saat itu Teuku Umar (Slamet Rahardjo) masih menjadi tokoh sentral cerita. Sebagai istri, tentu ia harus lebih ’rendah’ permainannya sehingga tidak ”memakan” lawan mainnya. Ini dilakukannya dengan baik. Dan begitu ia harus tampil ke muka, karena Teuku Umar meninggal, maka biar di tengah kerumunan ribuan khalayak, layar film seolah dipenuhi oleh kehadirannya. Padahal tindakannya tidak berlebihan. Semua terukur dengan pas. Adakah aktris kita yang bisa menyamai pencapaian ini?

Bahkan saat Tjoet Nja Dhien sudah dalam keadaan renta pun, Christine tetap mampu menghadirkannya dalam sosok batu karang, baik dengan diamnya, tatapan mata rabunnya, maupun gerak badan yang membungkuk dan gerak tangan yang melebar. Karena pukauan permainannya ini, penonton bisa tetap merasakan kehadirannya saat hanya mendengar suaranya saja.

Mengamati permainannya dalam film ini, terasa betul bahwa ia membuat konsep gerak sendiri, membuat perhitungan di setiap adegan permainannya dengan cermat.

***

Pengalaman apakah yang membimbing Christine dalam perjalanan kreatif seperti itu? Dara kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1957 itu memulai karirnya di film lewat Cinta Pertama (1973) arahan Teguh Karya. Film ini langsung menghadiahkan Piala Citra pertama baginya sebagai Aktris Terbaik. Sampai saat ini ia telah membintangi 21 film dengan enam Piala Citra. Selain lewat Cinta Pertama, ia menyabet Citra melalui Sesuatu yang Indah (1976, sutradara Wim Umboh), Pengemis dan Tukang Becak (1978, Wim Umboh), Di Balik Kelambu (1982, Teguh Karya), Kerikil-kerikil Tajam (1984, Sjuman Djaya), dan Tjoet Nja Dhien (1986, Eros Djarot).

Christine menyebut periode sejak Cinta Pertama pada 1973 sampai Kawin Lari pada 1974 adalah masa pencarian. ”Tapi pengertiannya pencarian film secara umum,” katanya. Dari pengenalan medan film itulah selanjutnya ia mulai mengenali dirinya dan berorientasi lebih lanjut pada sesuatu yang hendak dicapainya di film. Ini adalah proses belajar. ”Saya dari dulu suka belajar. Tanya nyak gue, dari dulu gue nggak pernah pakai disuruh-suruh belajar. Pulang sekolah, ngerjain PR,” ucapnya.

Dunia film itu baginya semacam misteri yang semakin dikuak semakin misterius rasanya. Dunia film lalu seolah menjadi sekolahnya, bukan hanya tentang film itu sendiri, tapi juga tentang kehidupan sehingga ia merasa menjadi dewasa lewatnya. Dalam produksi Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980, Slamet Rahardjo) ia mulai melihat sesuatu. Ada sesuatu yang mengkristal dari pengalamannya. ”Saya nggak belajar. Saya nggak tahu apa namanya. Tapi setelah Seputih, saya ke Berlin. Saya melihat berbagai pola bermain, dan bisa mengira-ngira bagaimana pola bermain saya sebetulnya,” katanya.

Perjalanan berlanjut terus. Ia bermain dalam Di Balik Kelambu (1982, Teguh Karya) yang disebutnya menawarkan pola pengembangan dari Seputih. Lantas Ponirah Terpidana (1983, Slamet Rahardjo). ”Ini lain lagi. Tidak seperti biasanya, diberikan rohnya dulu baru saya menemukan bentuknya sendiri. Tapi oleh Mas Slamet diberikan dulu desain bentuknya. Baru rohnya diisi.”

Usaha yang dilakukan Christine adalah mulai mengenakan kain kebaya ke mana-mana, seperti tokoh Srintil yang diperankannya dalam Ponirah. Inilah saat pertama ia makin menyadari proses ’menjadi’ dalam seni peran.

Slamet Rahardjo katanya juga memberi tembang-tembang Jawa seperti Asmaradana. Dengan membiarkan tembang Jawa itu mengalir setiap saat, Christine seperti mulai bisa menangkap ritme orang Jawa. ”Bayangin gue kan bukan orang Jawa. Ritme itu kan susah,” katanya .

Itulah sebagian pergulatan-pergulatan kreatif Christine dalam menyelesaikan sebuah film. Ia menyebut tiga nama yang punya peran besar dalam pembentukan dirinya di film, yaitu Teguh Karya, Slamet Rahardjo, Eros Djarot. Teguh mengajarkan bagaimana menjadi aktris, Slamet Rahardjo mengajarkan bagaimana mengolah kedalaman jiwa. Terakhir, Eros Djarot dirasa mengajarkan bahwa itu saja tidak cukup, tapi diperlukan juga daya analitik atau kemampuan intelektual. Dengan kata lain, komitmen, kedalaman jiwa, dan intelektualitas. Inilah yang diolah dan mengolah Christine Hakim dalam film.

***

Selain tiga nama di atas, tentu harus disebut pula peran keluarga yang turut melahirkannya. Christine adalah anak kelima dari enam anak keluarga Hakim Thahar. Karena terlahir tanggal 25 Desember, ia sempat diberi nama Natalia, yang akhirnya diganti menjadi Christine, sungguh pun seluruh keluarganya sebetulnya pemeluk Islam. Setidaknya Christine sendiri rajin sembahyang dan puasa. Dalam usia yang lanjut, ayah-ibunya masih segar-bugar. Mereka masih aktif berwiraswasta di Bandung dan sehari-harinya menetap di satu rumah tak jauh dari jalan raya Puncak. Rumah berdinding kayu ini jadi semacam pos pertemuan keluarga. Tiap hari Minggu ada saja anak yang muncul ke rumah ini, terlebih lagi di hari besar seperti Lebaran. Dan kakek Christine yang telah mendekati 90 tahun sibuk melayani cucu-cucu dan cicit-cicitnya. Sebuah keluarga yang bahagia, sehingga Christine bisa berujar, ”Saya beruntung punya orang tua yang masih bisa membantu saya.” Ini terucap dalam konteks keuangan, yang seperti tak begitu dipedulikannya, sehingga cukup mengherankan bahwa ”bintang” sebesar dia tak memiliki kendaraan pribadi.

Berjarak sekitar tiga kilometer ke arah pedalaman, ibu Christine punya kebun buah, peternakan sapi perah, dan bungalo mungil yang paling sering dikunjungi Christine. ”Lumayan buat nyepi,” katanya. Christine sendiri sebetulnya punya sepetak tanah tak jauh dari bungalo, tapi ia belum kunjung membangun bungalo sendiri dengan alasan belum punya duit. Yang jelas ia sudah punya tempat menyepi lain yang tak jauh dari jalan tol di Cibubur. Rumah yang dibelinya itu (”atas bantuan seorang dermawan,” katanya) adalah rumah kampung yang sangat pelosok. Jalanannya masih berupa tanah biasa. Rumah itu berhalaman cukup luas dan dipenuhi berbagai tumbuhan buah-buahan. ”Saya ingin tempat ini jadi semacam sanggar buat ngobrol dengan teman-teman,” katanya.

Sehari-hari Christine menempati sebuah kamar di rumah orang tuanya di Bendungan Hilir. ”Pokoknya berdesakan dengan ponakan-ponakan,” demikian ia sering berujar.

***

Hari-hari ini, saat ia mencoba bersantai melepas ketegangan perannya, saat ia masih belum bisa istirahat penuh dari perjalanannya memenuhi undangan sebagai juri pada Festival TV Shanghai, ia masih tetap sibuk dengan Tjoet Nja Dhien-nya. Ia ikut mengatur pemutaran film bagi orang-orang yang dianggapnya perlu dengan membawa sendiri kopi film itu tanpa canggung. Ia ikut mengatur pemutaran film itu di bioskop dalam acara FFI, sehingga dalam pertemuan beberapa hari lalu percakapan kami selalu saja dipotong dengan banyak kerepotan menelepon ke kiri dan ke kanan. Ia juga sibuk memikirkan pencetakan 80 kopi film itu karena tanggal edarnya sudah dekat.

Inilah sisi lain lagi dari Christine dengan dunia filmnya. Film yang turut diperaninya seolah menjadi miliknya, sehingga ia dengan sukarela mengurus segala tetek-bengeknya. Bukan hanya tetek-bengek saja sebetulnya. Ia pun tidak dibayar bermain dalam film ini. Bahkan ada kabar bahwa honornya dalam film berikutnya, Irisan-Irisan Hati, habis untuk menombok penyelesaian Tjoet Nja Dhien.

”Saya memang sangat berkepentingan agar film ini bisa selesai, karena saya merasa film ini sangat penting untuk bangsa. Film ini relevan sekali untuk masa sekarang,” katanya berapi-api, meski mungkin terasa klise. Mungkin ia benar, tapi yang lebih benar adalah bahwa tokoh pahlawan Aceh ini sudah menjadi media ekspresi pribadinya, bukan hanya media ekspresi sutradara. Ia seolah ingin menularkan sikap yang kokoh bahkan seolah tegar tanpa keluwesan dalam menjalani keyakinannya.

Dan dalam dunia film yang persediaan peran-perannya sangat menguntungkan dirinya, yang sebagian besar insannya bahkan tidak punya pemahaman yang jelas terhadap keseniannya sendiri, yang sebagian besar anggotanya lebih bermental ’hura-hura’, yang proses produksi dan distribusinya dihayati sebagai ladang pencari nama dan uang banyak secara mendadak, maka Christine Hakim harus menciptakan gunung-gunung tantangan sendiri agar bisa tetap mendaki.

Sosok pribadi ini seolah sebuah arus budaya sendiri di luar arus budaya film nasional yang keropos. Ia adalah Tjoet Nja Dhien perfilman nasional.

***

Lalu apalagi yang dicarinya? Semasa sekolah sampai menamatkan SMA-nya di SMA 6 Jakarta, ia bercita-cita ingin duduk di perguruan tinggi. Kini sadarlah ia bahwa semuanya, termasuk formalitas pendidikan, hanyalah alat. Bergabungnya dia dalam Sekolah Ilmu-ilmu Sosial di Jakarta tahun lalu disebutnya karena ia butuh pegangan untuk memahami masalah-masalah sosial.

Dunia Christine adalah dunia film. ”Kalau ditanya apa yang saya cari, yang saya cari nggak muluk-muluk. Selama saya masih hidup, masih bisa memberikan sesuatu pada orang lain, saya akan berikan.” Ia masih memimpikan pendirian pusat informasi film di Indonesia. Semacam Sinematek, tapi lebih aktif. Tahun lalu ia diundang oleh kalangan perfilman Jerman untuk mengunjungi satu pusat informasi film di Frankfurt. Agaknya pengalaman itu membuahkan impian yang jadi obsesinya sekarang ini.

Ia sampai saat ini masih sendirian. ”Saya punya kepercayaan, lahir, jodoh, mati di tangan Tuhan.” Tapi penghayatan seperti ini kadang dimungkinkan karena peran dalam kekinian, di mana eksistensi kita masih begitu kokoh, sehingga orang lain tempatnya memang bisa periferal boleh ada boleh tidak. Tapi nanti, ketika bintang memudar ketika umur mulai uzur? ”Di dalam hidup ini semua punya konsekuensi. Saya nggak takut selama saya masih bisa menjaga hubungan dengan Tuhan,” tukasnya.

Memang terasa klise. Tapi biarlah itu menjadi cakrawala hidup, Christine...

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)

Terbit pertama kali di Kompas, 13 November 1988.