Artikel/Sosok H Benyamin S: "Awas Jangan Bajak. Tuhan Lihat!"

Sosok JB Kristanto 01-09-2004

Mengenakan kaos kuning yang dibeli di salah satu butik di Jakarta, celana hitam, dan sepatu putih berhak tinggi, H Benyamin S minggu lalu menyambut tetamunya. Saat itu merupakan upacara selamatan rumahnya yang baru di bilangan Pondok Labu, rumah megah dan mewah di atas tanah seluas 2.500 meter persegi.

Peralatan mutakhir melengkapi rumah itu pula. Telecall dan sistem suara yang menghubungkan semua kamar, kolam kecil di tengah rumah, garasi yang menampung tiga mobilnya, dan satu ruang yang masih akan dibangun…studio rekaman.

Sementara pesta berlangsung dan band memperdengarkan musik (band ini pun milik Benyamin), tuan rumah ke sana-ke mari mencoba melayani semua tamu. Pesta ini untuk merayakan ulang tahunnya, ulang tahun anaknya, kepulangannya dari naik haji. ”Pokoknye borongan deh,” katanya. ”Ayo masuk deh. Terus aje ke belakang. Langsung ambil piring. Ane baru aje bele nangke. Orang-orang potong kue, ane bele nangke aje dah,” demikian sebagian sambutannya kepada tetamu yang terus mengalir memasuki rumahnya.

Benyamin memang masih Betawi. Segala atribut kemewahan dan kemodernan agaknya belum berhasil mengubahnya.

Acara yang berlangsung dari jam 16.00 sampai dengan 20.00 itu pada waktu maghrib terpaksa ditinggalkannya sebentar untuk bersembahyang di musala yang berada di pojok pekarangan rumahnya. ”Musala ini ane bangun biar anak-anak pada kenal Tuhan,” katanya.

Konon ke-betawi-an itu hampir identik dengan kocak. Mungkin ada benarnya juga. Coba lihat bentuk kalimat dalam surat undangannya: ”Tolong dong kalau ada waktu sudi kiranya datang ke rumah saya……” Dan di pojok bawah undangan tersebut: ”Supaya nggak nyasar dapat ikuti petunjuk peta di samping.” Kecuali kocak, nada kalimat itu juga mencerminkan keakraban, sesuatu yang rasanya juga sifat betawi, meski mungkin salah bila dilihat dari kaca mata tata bahasa Indonesia.

Dalam suatu omong-omong di dalam pesta, Benyamin mengatakan rencananya mendirikan studio rekaman. Namanya Ben’s Record. ”Waduh name Inggris nih,” celetuk seseorang. Benyamin ketawa dan menimpali: ”Huuh kaya Big Ben…”

Ia menjelaskan lagi: ”Saya percaya sekali hukum karma. Kalau orang mau bajak terserah. Tapi nanti dibajak lagi rejeki lu. Orang boleh nipu 100 perak, tapi rejekinya bakal dirampok 20 atau 30 tahun. Berapa banyak orang yang nipu kite, sekarang pada miring-miring kajang.”

Memilin Perut

Kini Benyamin masih tengah menyelesaikan film Pinangan dengan sutradara Sjuman Djaya yang juga menyutradarainya dalam Si Doel Anak Modern (1976). Dalam film terakhir ini Benyamin untuk kedua kalinya memperoleh gelar Aktor Terbaik.

Pinangan merupakan film yang cukup menuntut tenaga dan kesabaran. Berulang-ulang dihentikan karena cuaca yang tidak menguntungkan. Dalam film ini berkumpul pelawak-pelawak Suroto, Kardjo, Sumiati, Alwi, Rachmat Kartolo, Soes DA, dan apa yang terjadi bila mereka berkumpul sambil menantikan cuaca tentu sudah bisa ditebak. Bercanda dan bercanda terus. Sementara bagi orang luar hal itu merupakan tontonan gratis yang memilin perut.

Tentu saja pembicaraan juga sampai pada gelar yang baru saja diperoleh Benyamin ”Waduh gua nggak tahu dah mau pegimane,” katanya. ”Dulu gua bikinin lagu Bolenye Renyem. Sekarang gua masa bodo ajadah. Mau dibilang ape kek.”

Di saat lain, secara lebih serius Benyamin berkata lagi: ”Di mana sih aktor yang mampu berperan kocak, sedih, romantik, dan mungkin sadis dalam satu film. Film Indonesia memang kebanyakan tidak menyediakan hal ini. Tapi saya yakin tiap orang bisa kalau mau. Dan secara kecil-kecilan hal-hal tadi saya lakukan dalam film Si Doel Anak Modern.

Dalam film maupun dalam musik, Benyamin memang merupakan fenomena tersendiri. Apa yang dilakukannya pada awalnya memang selalu mengundang perdebatan. Benyamin sendiri merasakan tekanan batin ketika lagu-lagunya di cap kampungan, istilah yang tidak disetujuinya. ”Saya akui lagu saya lagu kampung, tapi bukan kampungan,” katanya. Ternyata corak lagu ataupun tampang konyolnya dalam film diterima. Ini kalau kita lihat dari hasil penjualan kaset dan karcis bioskop.

Apa kunci suksesnya ini? Menurut Benyamin sendiri: ketekunan, disiplin, dan prinsip. Dugaan lain: kejujuran dalam mencipta. Benyamin selalu utuh menampilkan dirinya. Karena itu ia terasa asli. Suatu hal yang hampir tak dimiliki oleh penyanyi atau bintang lain.

Lebih Senang dengan Supir

Tahun lalu FFI 76 berlangsung di Bandung. Suatu malam banyak yang hadir di Klab Malam Aneka Plaza, termasuk Benyamin. Band pengiring dansa menyuarakan musik yang merangsang orang menari. Ketua Parfi, Sudewo tidak ketinggalan. Melihat itu Benyamin naik ke panggung, menyambar mikrofon dan keluarlah dari tenggorokannya salah satu lagunya yang populer: ”samber kaennye, ambil tenge, betot ujungnya.”

Suasana klab malam pun jadi makin meriah. Irama musik yang dipakai untuk mengiringi lagu Benyamin tersebut adalah rock. Dan bukan Benyamin kalau suasana seperti itu tidak dimanfaatkannya. Maka di tengah nyanyian tampil pula senggakan-senggakannya. Cuma senggakan kali ini: ”Pak Dewa…Pak Dewa...Dan Benyamin nyengir, Pak Dewa nyengir, hadirin ketawa senang.”

Kekocakan Benyamin serupa ini berkurang bila ia berada di rumah. Ketawa-ketawa memang masih ada, namun ia lebih tampak sebagai bapak keluarga yang berwibawa. ”Ayah meninggal waktu saya umur dua tahun. Saya tak pernah merasakan kasih-sayang seorang bapak. Sekarang saya sering merasa bersalah karena tak pernah bisa berjalan-jalan dengan anak-anak saya. Waktu saya habis disita pekerjaan. Anak-anak pun tidak mau berjalan bersama saya. Mereka lebih senang pergi dengan supir. Karena kalau bepergian dengan saya, pasti saya dikerumuni orang, sementara anak saya terlupakan...”

”Anak-anak adalah segalanya. Saya terlalu mendambakan anak. Memang rasanya sekarang belum lengkap karena belum punya anak perempuan, namun istri berkata sudah capek hamil.”

”Ibu?”

”Ibu adalah keramat saya. Doa dialah yang menjadikan saya begini. Dia adalah kawan, ibu, kekasih, dan pendorong dalam karir. Tapi terutama sebagai ibu dan kakak.”

”Uang?”

”Uang adalah pelengkap untuk hidup. Kita harus bisa memerintah uang dan bukan sebaliknya.”

”Rumah?”

”Secara kebendaan saya khususkan untuk keluarga. Tempat berteduh. Secara religius ini adalah titipan Yang Maha Kuasa. Kalau saya tidak punya anak dan istri saya lebih senang keluyuran, tidur di mana saya suka untuk memuaskan nafsu kesenian saya. Rezeki itu bukan berasal dari kita saja. Karena itu selalu saya sisihkan sebagian untuk dana atau sumbangan.”

”Rencana masa depan kalau tidak laku lagi?”

”Jadi penulis lagu dan sutradara.”

”Apa benar sekarang ini Anda bintang termahal?”

”Ah siapa bilang. Saya sih gampang diatur.”

Kabar-kabarnya sih, Benyamin memang bintang termahal. Tarifnya berkisar 7,5 juta rupiah, jumlah yang jauh di atas bintang laris lainnya seperti Lenny Marlina atau Yatie Octavia. Dan kalau FFI yang lalu diributkan masalah wajah Indonesia, dengan tidak disadari mungkin Benyamin dengan seluruh dirinya itu sudah menjadi salah satu wajah Indonesia itu.

***

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)
Terbit pertama kali di Kompas, 22 Maret 1977.